Kecerdasan buatan sudah masuk ke ruang kelas.
Pertanyaannya bukan lagi apakah sekolah dan guru akan menggunakan AI, tetapi bagaimana AI digunakan tanpa mengurangi esensi pembelajaran itu sendiri.
Inilah persoalan yang kini dihadapi dunia pendidikan.
AI dapat membantu guru menyiapkan materi, menyederhanakan pekerjaan administratif, menghasilkan ide pembelajaran, hingga memberikan dukungan personal kepada siswa. Namun pada saat yang sama, ketergantungan berlebihan pada AI dapat mengurangi kreativitas, memperkuat bias, melemahkan kemampuan berpikir kritis, dan bahkan membuat proses belajar kehilangan bagian terpentingnya: perjuangan manusia untuk memahami sesuatu.
UNESCO melihat persoalan ini secara tegas.
Dalam sesi UNESCO Campus yang mempertemukan hampir 800 guru dan pendidik dari 97 negara, muncul satu kesimpulan yang kuat:
AI boleh masuk ke ruang kelas. Tetapi kendali atas pendidikan harus tetap berada di tangan manusia.
Guru tetap tidak tergantikan
Carlos Vargas, UNESCO Chief of Section for Teacher Development dan Head of the Secretariat of the International Task Force on Teachers for Education 2030, membuka diskusi dengan menegaskan bahwa guru memiliki peran yang tidak dapat digantikan AI.
AI dapat memproses data.
AI dapat menghasilkan teks.
AI dapat memberi rekomendasi.
Tetapi AI tidak memiliki pemahaman manusia terhadap emosi, hubungan sosial, konteks kehidupan, dan pengalaman belajar seorang siswa.
Di sinilah peran guru tetap fundamental.
Pendidikan bukan hanya proses memindahkan informasi dari satu pihak kepada pihak lain.
Pendidikan adalah proses membangun manusia.
Dan proses itu membutuhkan empati, penilaian, interaksi, kepercayaan, serta kemampuan memahami hal-hal yang tidak selalu dapat diterjemahkan menjadi data.
Namun mempertahankan peran guru bukan berarti menolak AI.
Sebaliknya, UNESCO justru mendorong guru untuk mampu menggunakan AI dengan lebih efektif dan etis.
Vargas menekankan pentingnya pengembangan profesional yang komprehensif agar guru memahami kapan AI layak digunakan dan kapan AI seharusnya tidak digunakan.
Ini mungkin menjadi salah satu kompetensi terpenting guru di era baru.
Bukan sekadar kemampuan menggunakan AI.
Tetapi kemampuan mengendalikan penggunaannya.
Pendidikan bukan hanya dengan AI, tetapi juga tentang AI
Ada perubahan penting dalam paradigma pendidikan.
Selama ini kita banyak berbicara tentang bagaimana AI dapat digunakan untuk pendidikan.
Namun Vargas mengingatkan bahwa pendidikan juga harus menjadi education for AI.
Artinya, guru dan siswa perlu memahami bagaimana AI bekerja, bagaimana bias muncul, bagaimana data digunakan, serta bagaimana keluaran AI harus dievaluasi secara kritis.
Ini penting karena AI tidak netral.
Model AI dibangun dari pengetahuan dan data yang sudah ada.
Dan data tersebut tidak selalu mewakili seluruh bahasa, budaya, perspektif, atau sistem pengetahuan di dunia.
Jika data yang digunakan terbatas, maka hasil yang dihasilkan juga dapat terbatas.
Jika informasi tertentu mendominasi data pelatihan, maka perspektif lain dapat terpinggirkan.
Karena itu, literasi AI seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan:
“Bagaimana cara membuat prompt yang baik?”
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
“Dari mana jawaban ini berasal?”
“Perspektif siapa yang tidak muncul?”
“Apakah jawabannya benar?”
“Apakah jawabannya adil?”
“Apakah saya tetap bisa berpikir tanpa bantuan AI?”
Jangan biarkan guru dibentuk oleh AI
Salah satu pesan paling penting dari sesi UNESCO adalah bahwa guru harus diberdayakan untuk membentuk penggunaan AI, bukan justru dibentuk oleh AI.
Ini berarti guru perlu terlibat dalam penyusunan kebijakan, kerangka kompetensi, hingga keputusan tentang teknologi yang digunakan di sekolah.
Terlalu sering, teknologi pendidikan masuk ke institusi melalui keputusan administratif atau pengadaan, sementara orang yang benar-benar menggunakannya setiap hari justru tidak dilibatkan sejak awal.
Padahal guru adalah pihak yang paling memahami konteks kelas.
Mereka mengetahui karakter siswa.
Mereka memahami dinamika belajar.
Mereka mengetahui kapan teknologi membantu dan kapan teknologi justru mengganggu.
Karena itu, implementasi AI di pendidikan tidak boleh hanya menjadi proyek teknologi.
Ia harus menjadi proyek pedagogi.
Seperti ditegaskan Vargas, pedagogi—bukan teknologi semata—yang mengubah pendidikan.
Pelajaran besar dari pandemi: guru mampu beradaptasi
Pandemi COVID-19 memberikan salah satu contoh terbesar mengenai kemampuan guru beradaptasi.
Dalam waktu sangat singkat, jutaan guru di seluruh dunia harus membangun ulang cara mereka mengajar.
Ruang kelas berpindah ke layar.
Metode berubah.
Materi diadaptasi.
Interaksi harus didesain ulang.
Banyak solusi muncul bukan karena sistem sudah siap, tetapi karena guru dipaksa bereksperimen dan menemukan cara baru.
Menurut Vargas, pengalaman tersebut menunjukkan satu hal penting:
ketika guru diberdayakan dan diberi ruang untuk bereksperimen, mereka mampu melakukan transformasi yang sangat besar.
Pendekatan yang sama diperlukan dalam menghadapi AI.
Guru tidak hanya membutuhkan aturan.
Mereka membutuhkan kesempatan mencoba.
Mereka membutuhkan pelatihan.
Mereka membutuhkan komunitas belajar.
Dan mereka membutuhkan lingkungan yang memungkinkan kesalahan menjadi bagian dari proses pembelajaran profesional.
Masalah terbesar bukan menggunakan AI, tetapi terlalu bergantung padanya
Dr Ann-Louise Davidson, Professor di Department of Education, Concordia University, menyoroti risiko lain yang semakin relevan: overreliance on AI.
Ketergantungan berlebihan terhadap AI terjadi ketika manusia mulai menyerahkan terlalu banyak tugas—bahkan tugas sederhana—kepada teknologi.
Konsekuensinya tidak selalu terlihat secara langsung.
Seseorang mungkin menjadi lebih cepat menyelesaikan tugas.
Namun dalam jangka panjang, ketergantungan tersebut dapat mengurangi kemandirian, kreativitas, dan kemampuan menyelesaikan masalah.
Ketika setiap tulisan dimulai oleh AI, manusia semakin jarang melatih proses membangun argumen dari nol.
Ketika setiap ide dihasilkan AI, kemampuan menghasilkan ide sendiri dapat melemah.
Ketika setiap jawaban diterima tanpa diperiksa, kemampuan berpikir kritis ikut menurun.
Davidson menyarankan pendekatan yang sederhana tetapi penting:
mulailah dengan pemikiran sendiri. Gunakan perangkat biasa untuk mengembangkan ide. Baru gunakan AI untuk membantu memperbaikinya.
Dengan kata lain:
AI seharusnya menjadi amplifier, bukan originator dari seluruh proses berpikir.
Ketidaknyamanan belajar justru penting
Ada bagian dari proses belajar yang sering kali terasa tidak nyaman.
Menulis esai dari halaman kosong.
Mencari struktur argumen.
Membuat kesalahan.
Mengulang perhitungan.
Mengalami kebingungan.
Mencoba lagi.
AI dapat menghilangkan banyak ketidaknyamanan tersebut.
Tetapi justru di situlah muncul dilema.
Jika seluruh proses sulit tersebut dihilangkan, siswa memang dapat menghasilkan pekerjaan lebih cepat.
Namun mereka mungkin kehilangan kesempatan mengembangkan kemampuan yang seharusnya terbentuk melalui proses tersebut.
Belajar tidak hanya tentang mendapatkan jawaban.
Belajar adalah proses membangun kapasitas untuk menemukan jawaban.
Karena itu, salah satu risiko terbesar AI adalah membuat siswa menghasilkan hasil yang baik tanpa benar-benar membangun kemampuan yang dibutuhkan untuk menghasilkan hasil itu sendiri.
Ketika AI tersedia, semuanya terlihat mudah.
Masalah muncul ketika AI tidak tersedia.
Apakah siswa masih mampu melakukannya sendiri?
Ini seharusnya menjadi salah satu pertanyaan fundamental bagi sekolah.
Siswa harus tetap menjadi protagonis
Davidson menekankan bahwa siswa harus tetap menjadi protagonis dari proses belajar.
Mereka tidak boleh berubah menjadi sekadar editor dari hasil buatan AI.
Ini sangat penting.
Jika siswa hanya memberikan instruksi, menerima jawaban, lalu memperhalus hasilnya, pengalaman belajar mereka menjadi sangat berbeda dibandingkan ketika mereka harus membangun pemahaman sendiri.
Kreativitas manusia lahir bukan hanya dari hasil akhir.
Ia lahir dari perjalanan menuju hasil tersebut.
Karena itu, penggunaan AI perlu didesain untuk memperkuat pemikiran siswa.
Bukan menggantikannya.
AI bisa membantu memberikan alternatif.
AI bisa membantu mencari kelemahan argumen.
AI bisa membantu menjelaskan konsep dengan cara berbeda.
AI bisa membantu proses refleksi.
Namun keputusan, penilaian, interpretasi, dan penciptaan makna tetap harus menjadi pekerjaan manusia.
Guru bukan penyampai materi—guru adalah perancang pengalaman belajar
Salah satu gagasan paling menarik dari Davidson adalah perubahan cara kita melihat profesi guru.
Guru bukan hanya orang yang menjelaskan konteks.
Guru adalah creator of learning experiences.
Perbedaannya besar.
Jika tugas guru hanya menyampaikan informasi, AI memang dapat melakukan sebagian fungsi tersebut.
Namun jika tugas guru adalah merancang pengalaman yang membuat siswa berpikir, bertanya, mencoba, berdiskusi, merefleksikan, dan membangun pemahaman, maka perannya justru semakin penting.
Guru masa depan bukan pesaing AI.
Guru adalah orang yang menentukan bagaimana AI ditempatkan dalam pengalaman belajar.
Di sinilah kompetensi pedagogis menjadi semakin penting, bukan semakin tidak relevan.
Bias AI bukan persoalan teknis semata
Davidson juga menunjukkan bagaimana AI dapat menghasilkan bias secara otomatis.
Dalam satu demonstrasi, ketika AI diminta menulis sebuah cerita, karakter utama secara default muncul sebagai laki-laki kulit putih tanpa disabilitas.
Contoh tersebut tampak sederhana.
Namun implikasinya besar.
AI belajar dari pola data.
Jika data dunia digital memiliki bias, AI dapat mereproduksi bias tersebut.
Ini berarti guru dan siswa tidak boleh menerima hasil AI seolah-olah netral.
Setiap output perlu diperlakukan sebagai sesuatu yang harus diperiksa.
Siapa yang direpresentasikan?
Siapa yang hilang?
Apakah ada stereotip?
Apakah perspektif tertentu mendominasi?
Apakah budaya lokal terwakili?
Kemampuan membaca bias inilah yang seharusnya menjadi bagian dari literasi AI.
Dan yang menarik, bias bukan sesuatu yang harus diterima begitu saja.
Manusia dapat menantang AI.
Guru dapat meminta perspektif berbeda.
Siswa dapat membandingkan jawaban.
Mereka dapat mengoreksi.
Mereka dapat memperluas.
Dengan cara inilah AI dapat berubah dari sumber jawaban menjadi objek pembelajaran kritis.
AI juga memiliki biaya lingkungan
Aspek lain yang sering terlupakan adalah jejak lingkungan AI.
Sistem AI bergantung pada infrastruktur komputasi besar.
Pusat data membutuhkan energi dalam jumlah signifikan, termasuk untuk menjalankan server dan sistem pendinginan.
Karena itu, Vargas mengajukan pertanyaan yang sederhana tetapi provokatif:
Kapan penggunaan AI benar-benar layak?
Apakah AI perlu digunakan untuk semua hal?
Apakah setiap tugas sederhana membutuhkan komputasi AI?
Apakah penggunaan AI tersebut benar-benar menciptakan nilai?
Ini membawa satu dimensi baru dalam literasi AI.
Bukan hanya:
“Bisakah kita menggunakan AI?”
Tetapi juga:
“Perlukah kita menggunakan AI untuk ini?”
Penggunaan teknologi yang bertanggung jawab berarti memahami bahwa efisiensi digital juga memiliki konsekuensi fisik.
Etika tidak boleh menjadi pelajaran tambahan
Jay Ralitera, pakar UNESCO dalam Media and Information Literacy di Nairobi, menekankan bahwa AI mengubah bukan hanya cara manusia belajar, tetapi juga cara pengetahuan diproduksi.
AI mempercepat banyak proses.
Namun AI juga dapat mempercepat penyebaran bias, kesalahan, dan informasi yang tidak akurat.
Karena itu, pendidikan membutuhkan kerangka etika yang kuat.
UNESCO Recommendation on the Ethics of Artificial Intelligence tahun 2021 menempatkan empat nilai utama:
- penghormatan, perlindungan, dan pemajuan hak asasi manusia, kebebasan fundamental, serta martabat manusia;
- perlindungan lingkungan dan ekosistem;
- keberagaman dan inklusivitas;
- kehidupan dalam masyarakat yang damai, adil, dan saling terhubung.
Nilai-nilai tersebut seharusnya tidak hanya berada di dokumen kebijakan.
Ia perlu diterjemahkan ke keputusan nyata di sekolah.
Bagaimana data siswa digunakan?
Siapa yang memiliki hasil pekerjaan siswa?
Apakah platform AI menyimpan percakapan siswa?
Bagaimana karya intelektual dilindungi?
Bagaimana kreativitas anak dijaga?
Bagaimana sekolah memastikan bahwa teknologi tidak memperbesar ketimpangan?
Semua pertanyaan tersebut akan semakin penting.
AI tidak memegang kebenaran absolut
Ada satu kesalahan besar yang berpotensi muncul ketika AI semakin fasih menghasilkan jawaban.
Manusia mulai menganggap jawabannya benar.
Padahal AI dapat salah.
AI dapat menghasilkan informasi yang terlihat meyakinkan tetapi tidak akurat.
Ia dapat kehilangan konteks.
Ia dapat membangun jawaban dari pola yang keliru.
Karena itu, Ralitera menegaskan bahwa guru pertama-tama perlu belajar memahami AI, lalu membantu siswa membangun kemampuan untuk mempertanyakan AI.
Siswa harus terbiasa:
memeriksa fakta,
membandingkan sumber,
menguji argumen,
mencari perspektif alternatif,
dan mempertanyakan asumsi.
Paradoksnya, semakin pintar AI terlihat, semakin penting keterampilan berpikir kritis manusia.
Ada sesuatu yang lebih besar daripada bahasa: budaya
AI sering dibahas sebagai persoalan data dan bahasa.
Namun persoalannya lebih dalam.
Ketika pengetahuan budaya tertentu tidak terdigitalisasi, AI memiliki kemungkinan lebih kecil untuk mengenalinya.
Artinya, kelompok yang paling sedikit terdokumentasi secara digital juga berisiko paling sedikit direpresentasikan dalam sistem AI.
Ini bukan hanya masalah bahasa.
Ini masalah hilangnya pengetahuan.
Tradisi.
Cara pandang.
Nilai.
Sejarah.
Pengetahuan lokal.
Karena itu, preservasi pengetahuan digital menjadi penting.
Jika pendidikan hanya menjadi konsumen teknologi AI yang dibangun dari sumber luar, ada risiko bahwa generasi mendatang mengetahui dunia dari perspektif yang semakin homogen.
Guru memiliki peran penting untuk memastikan teknologi memperluas wawasan siswa—bukan mempersempitnya.
Jadi, apakah AI perlu dipromosikan di pendidikan?
Setelah membahas seluruh risikonya, pertanyaan terakhir menjadi menarik:
Jika AI memiliki begitu banyak persoalan, mengapa pendidikan harus tetap menggunakannya?
Jawaban para pakar UNESCO pada dasarnya seragam.
Karena AI sudah ada.
Ia tidak akan hilang.
Ia akan berkembang.
Ia akan semakin terintegrasi dalam kehidupan, pekerjaan, dan masyarakat.
Karena itu, menghindarinya bukan solusi.
Yang dibutuhkan adalah memastikan bahwa teknologi tersebut berkembang dalam arah yang human-centered.
Pendidikan harus membantu manusia menggunakan AI tanpa kehilangan kemampuan manusia.
Masa depan pendidikan bukan AI atau guru
Perdebatan tentang AI sering dibangun dengan pilihan yang salah:
AI atau guru.
Manusia atau mesin.
Teknologi atau pendidikan tradisional.
Padahal masa depan kemungkinan tidak akan berbentuk salah satu dari keduanya.
Pertanyaan yang lebih relevan adalah:
Bagaimana teknologi dan manusia bekerja bersama tanpa membuat manusia kehilangan perannya?
Guru tidak perlu berlomba menjadi lebih cepat daripada AI dalam menghasilkan teks.
Siswa tidak perlu mengalahkan AI dalam mengingat informasi.
Nilai manusia justru terletak pada hal-hal yang tidak mudah direduksi menjadi algoritma:
empati,
konteks,
nilai,
penilaian,
kreativitas,
keberanian mempertanyakan,
dan kemampuan membuat keputusan yang bertanggung jawab.
AI dapat menjadi alat yang luar biasa.
Tetapi alat selalu membutuhkan seseorang yang menentukan bagaimana alat tersebut digunakan.
Dan di ruang kelas, orang itu tetaplah guru.
Karena itu, agenda terbesar pendidikan bukan membuat guru semakin bergantung pada AI.
Justru sebaliknya.
Kita perlu membuat guru semakin mampu mengendalikan AI.
Bukan hanya memahami cara menggunakannya.
Tetapi memahami kapan harus menggunakannya, kapan harus mempertanyakannya, dan kapan harus mematikannya.
Karena pada akhirnya, masa depan pendidikan tidak akan ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang masuk ke kelas.
Ia akan ditentukan oleh seberapa bijak manusia menggunakannya.





Tinggalkan Balasan