Laporan Dunia Kerja 2025: Angkatan Kerja Asia Menghadapi Tekanan, Peluang, dan Titik Perubahan

G-P (Globalization Partners), pemimpin global dalam solusi ketenagakerjaan yang mengutamakan kerja jarak jauh, telah merilis Laporan Dunia di Tempat Kerja 2025, yang menawarkan pandangan tepat waktu dan komprehensif tentang evolusi tenaga kerja global. Laporan ini menguraikan tantangan dan peluang utama yang dihadapi oleh pemberi kerja dan karyawan, mulai dari ketidakpastian makroekonomi dan kekurangan talenta hingga pergeseran dinamika kekuasaan dan munculnya kepemimpinan berbasis AI.

“Lanskap bisnis global terus berubah, dan riset kami menegaskan bahwa bisnis dan karyawan sama-sama merasakan tekanan tersebut. Kesuksesan saat ini bukan hanya tentang beradaptasi; tetapi juga tentang membangun ketahanan secara proaktif. Dengan mengintegrasikan AI yang berorientasi pada tindakan ke dalam alur kerja kita, kita membuka masa depan di mana kecerdasan manusia tidak hanya dipertahankan tetapi juga diperkuat secara dramatis,” kata Nat Natarajan, kepala produk dan strategi di G-P.

Angkatan Kerja Asia: Tangguh tetapi Gelisah

Laporan tersebut mengungkapkan bahwa 65% karyawan di seluruh dunia khawatir akan kehilangan pekerjaan akibat faktor makroekonomi, dengan kecemasan tertinggi di Singapura sebesar 85%, tertinggi di antara pasar yang disurvei. Hal ini mencerminkan volatilitas regional yang lebih luas, karena ekonomi Asia-Pasifik menghadapi gangguan perdagangan, pergeseran demografis, dan ekspektasi tenaga kerja yang terus berkembang.

Meskipun terjadi revisi penurunan pertumbuhan lapangan kerja global, Asia-Pasifik tetap menjadi wilayah dengan pertumbuhan tercepat, dengan pertumbuhan lapangan kerja diproyeksikan sebesar 1,9% pada tahun 2025. Namun, pertumbuhan ini diimbangi oleh tantangan struktural. Di Asia Timur, 64% pemberi kerja menyebutkan budaya organisasi dan resistensi terhadap perubahan sebagai hambatan transformasi, jauh di atas rata-rata global. Kekurangan talenta sangat akut, terutama di sektor manufaktur dan teknologi, mendorong perusahaan di Tiongkok dan Korea Selatan untuk berinvestasi besar-besaran dalam otomatisasi dan penambahan tenaga kerja.

Di Jepang dan Hong Kong, perusahaan memanfaatkan beragam talenta untuk mengimbangi kendala demografis, sementara di Malaysia dan Indonesia, pekerja muda semakin mencari peran yang bermakna dan pengaturan kerja yang fleksibel. Pergeseran ini memaksa para pemimpin SDM untuk memikirkan kembali model tradisional keterlibatan, retensi, dan pengembangan kepemimpinan.

Mobilitas, Motivasi, dan Kekuatan Pasar

Secara global, 52% karyawan secara aktif atau pasif mencari peran baru, dan 62% bersedia pindah ke luar negeri untuk pertumbuhan karier, meningkat menjadi 71% di kalangan milenial. Di Asia, mobilitas ini merupakan tantangan sekaligus peluang. Pemberi kerja harus menyeimbangkan strategi retensi dengan akses talenta global, terutama karena pekerja muda memprioritaskan kemajuan karier dan keselarasan nilai.

Menariknya, meskipun 74% karyawan dan 59% eksekutif percaya bahwa pemberi kerja memiliki keunggulan di pasar kerja saat ini, ekspektasi tetap tinggi. Enam puluh delapan persen karyawan mengatakan kenaikan gaji tahunan yang dijamin di atas penyesuaian biaya hidup akan mengamankan loyalitas mereka selama empat tahun ke depan. Ini menandakan pergeseran dari pekerjaan transaksional ke keterlibatan tenaga kerja strategis.

AI dan Evolusi Kepemimpinan

AI dan otomatisasi terus membentuk kembali tenaga kerja, tetapi sebagian besar perusahaan tidak menggantikan pekerja manusia dalam skala besar. Hanya 16% eksekutif yang mengatakan mereka melakukan otomatisasi secara agresif sehingga peran manusia menjadi opsional, sementara 11% justru semakin mengandalkan talenta manusia sebagai pembeda utama mereka. Di Asia, 90% pemberi kerja mengidentifikasi AI dan robotika sebagai teknologi transformatif, dengan penekanan yang semakin besar pada literasi AI dan ketangkasan lintas fungsi.

Ekspektasi kepemimpinan juga berkembang. Lima puluh sembilan persen eksekutif kini memprioritaskan keahlian AI daripada pengalaman fungsional bertahun-tahun saat merekrut untuk peran senior. Ini menandai pergeseran signifikan dalam cara organisasi mendefinisikan kemampuan strategis, terutama di pasar yang bergerak cepat seperti Singapura, Korea Selatan, dan Tiongkok.

SDM di Ujung Tombak

Laporan Dunia di Tempat Kerja 2025 menyoroti kebenaran global dengan nuansa regional: masa depan pekerjaan bukan hanya tentang teknologi atau kebijakan, tetapi tentang manusia. Di Asia, tempat tradisi bertemu transformasi, para pemimpin SDM harus menavigasi kompleksitas dengan kejelasan, menyeimbangkan inovasi dengan empati. Baik itu pelatihan ulang, mobilitas, atau pengembangan kepemimpinan, organisasi yang berinvestasi dalam ketahanan manusia akan menjadi organisasi yang berkembang.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *