Tingkat keterlibatan karyawan secara global turun menjadi 20% pada tahun 2025—turun dari angka tertinggi 23% pada tahun 2022—yang menandai kali pertama Gallup mencatat penurunan keterlibatan global selama dua tahun berturut-turut. Meskipun peningkatan jangka panjang, termasuk kenaikan delapan poin sejak tahun 2009, mencerminkan kemajuan yang stabil, penurunan terkini mengisyaratkan tantangan yang semakin besar bagi organisasi di seluruh dunia, menurut laporan terbaru Gallup, *State of the Global Workplace*.
Setiap poin persentase mewakili sekitar 21 juta karyawan di seluruh dunia. Walaupun kualitas kerja secara keseluruhan telah membaik bagi jutaan orang selama satu dekade terakhir, penurunan belakangan ini membawa konsekuensi baik secara operasional maupun ekonomi. Pada tahun 2024 saja, kurangnya keterlibatan karyawan menyebabkan kerugian ekonomi global yang diperkirakan mencapai US$10 triliun akibat hilangnya produktivitas, setara dengan 9% dari PDB global
Penurunan keterlibatan manajer memicu penurunan secara global
Penurunan tingkat keterlibatan ini sebagian besar disebabkan oleh para manajer, yang tingkat keterlibatannya telah turun sembilan poin persentase sejak tahun 2022, termasuk penurunan sebesar lima poin pada tahun 2025 (dari 27% menjadi 22%). Sementara itu, tingkat keterlibatan kontributor individu tetap relatif stabil.
Meski secara historis memiliki tingkat keterlibatan yang lebih tinggi dibandingkan tim mereka, kini tingkat keterlibatan manajer tidak lebih tinggi daripada karyawan yang mereka pimpin; hal ini menyoroti perubahan krusial dalam dinamika tempat kerja. Data regional mempertegas tren ini: di Asia Selatan—khususnya India—tingkat keterlibatan manajer turun delapan poin, seiring dengan perampingan struktur organisasi dan pengurangan peran manajerial.
Manajer juga memegang peranan penting dalam adopsi AI dan transformasi digital. Penelitian Gallup di AS menunjukkan bahwa keberhasilan integrasi AI sangat bergantung pada inisiatif yang dipimpin oleh manajer.
“Dunia bisnis berinvestasi besar-besaran dalam AI, namun hasilnya masih tertinggal. Jawaban yang selama ini banyak diabaikan oleh dunia korporasi adalah peran manajer,” ungkap CEO Gallup, Jon Clifton.
Optimisme pasar kerja bervariasi menurut wilayah
Secara global, 52% karyawan berpendapat bahwa saat ini adalah waktu yang tepat untuk mencari pekerjaan; angka ini menunjukkan sedikit peningkatan sebesar satu poin dibandingkan tahun 2024. Tingkat optimisme meningkat di kalangan pekerja yang sepenuhnya bekerja di lokasi kantor (*on-site*), namun menurun di kalangan karyawan yang bekerja jarak jauh (*remote*) maupun mereka yang pekerjaannya memungkinkan untuk dilakukan secara jarak jauh, yang mencerminkan berkurangnya peluang kerja jarak jauh.
Ditinjau berdasarkan wilayah, Australia/Selandia Baru (-12 poin) dan AS/Kanada (-10 poin) mencatat penurunan paling tajam. Meskipun tingkat optimisme di Australia/Selandia Baru masih berada di atas rata-rata global, optimisme di Amerika Utara kini termasuk yang terendah di dunia.
Kesejahteraan menunjukkan sedikit peningkatan di tengah tekanan yang terus berlanjut
Kesejahteraan karyawan mengalami peningkatan tipis, dengan 34% karyawan dikategorikan berada dalam kondisi berkembang (*thriving*), naik satu poin dibandingkan tahun 2024. Peningkatan paling signifikan terlihat di Amerika Latin, Karibia, dan Eropa.
Namun, tingkat emosi negatif harian, stres, kemarahan, dan kesedihan masih tetap tinggi dibandingkan dengan masa sebelum pandemi. Para pemimpin melaporkan tingkat kesejahteraan keseluruhan yang lebih tinggi dibandingkan karyawan pelaksana (*individual contributors*), namun mereka juga menghadapi stres harian dan rasa kesepian yang lebih besar. Yang tak kalah penting, keterikatan karyawan (*engagement*) terus berperan sebagai faktor pelindung: manajer yang memiliki keterikatan tinggi melaporkan emosi negatif yang lebih rendah dan jauh lebih mungkin berada dalam kondisi berkembang dibandingkan rekan-rekan mereka yang memiliki tingkat keterikatan lebih rendah.


Tinggalkan Balasan